Monthly Archives: Mei 2010

Ini situsnya orang kafir

 


Disalin dari situs:
http://muhammad-saw.t35.com/

© Ali Sina.
All Rights Reserved

Dan ini orang yang telah menjelek-jelek kan Nabi Muhammad SAW

Menggabar kartun nabi Muhammad SAW di facebook

  Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring akan mengirim surat ke pengelola situs jejaring sosial Facebook di luar negeri mengenai lomba menggambar kartun Nabi Muhammad di akun tersebut.

“Percuma kalau sudah dihapus kalau ada pihak lain yang memposting kembali, untuk itu perlu juga kesadaran dari kita semua mengenai hal tersebut”, kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, lomba menggambar kartun di akun Facebook adalah celah untuk memprovokasi kerukunan umat beragama.“Untuk itu, kami meminta kepada masyarakat agar tidak terpancing oleh akun tersebut dan kita cooling down saja menghadapi hal ini”, katanya.

Menurut dia, mengenai Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (RPM Konten) tentang pembatasan konten multimedia, tidak akan mengatur kebebasan pers dan hanya mengatur unsur negatif di dalamnya.“Unsur negatif tersebut adalah pornografi, penjudian, penipuan, kekerasan dan penghinaan terhadap agama, suku dan ras, kata Tifatul Sembiring.Ia menambahkan, kecanggihan teknologi yang sekarang ini dilakukan tidak hanya untuk hal positif tapi banyak juga pihak yang melakukan untuk hal negatif, untuk itu pihaknya akan meminimalisasikan hal tersebut dengan RPM Konten.Menurut survei Komisi Perlindungan Anak (KPA) tahun 2007 lalu, katanya, 97 persen siswa SMP dan SMA pernah menonton atau mengakses film porno di website, 92, 7 persen melakukan oral seks, 67,2 berhubungan badan dan 21,2 melakukan aborsi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk dapat ‘mencekal’ alamat grup di Facebook berjudul‘Everybody Draw Mohammed Day!’
“Harusnya Kementerian Komunikasi dan Informasi dapat mencekal adanya peredaran seperti ini. Karena menggambar Nabi Muhammad mengarah kepada penghinaan agama,” ujar Ketua MUI Amidhan kepada detikINET, Rabu (19/5/2010).

Selain itu, Amidhan juga berpesan kepada seluruh masyarakat Muslim agar tidak terpancing dan mengikuti lomba tersebut yang akan digelar pada 20 Mei 2010. “Ini cyberwar. Pemerintah harus segera bertindak,” tegasnya.

Amidhan mengingatkan, penghinaan akan dapat memperkeruh suasana dengan dengan para penganut dan kelompok-kelompok yang berbeda dengan Islam.

“Saya harap ini segera dapat diselesaikan sehingga tidak menimbulkan kekacauan,” pintanya. Sementara itu, Kemenkominfo belum bisa dimintai konfirmasi terkait isu ini. ( fw / fw /detikinet

Di Bank Dunia, Sri Mulyani Hanyalah ‘Kacung’

OLEH: ARIEF TURATNO

BEGITU Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati (SMI) menyatakan mundur dari jabatannnya, reaksi pasar Indonesia sempat bergolak. Sejumlah media, termasuk Koran ternama di Tanah Air, membuat berita dan memajang gambar SMI sedemikian. Bahkan ada yang mengelu-elukan SMI bak pahlawan. Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengomentari tentang kedudukan SMI mendatang sebagai Direktur Bank Dunia (World Bank) sebagai bentuk pengabdian. Pertanyaan dan persoalannya adalah posisi macam apa sih yang nanti dijabat SMI di Bank Dunia itu

Seorang teman yang paham betul tentang apa Bank Dunia dan peranannya dalam percaturan ekonomi dunia mengatakan, bahwa SMI di perusahaan itu tidak lebih dari seorang karyawan. Dia tidak lebih dari seorang “kacung” dari Bank Dunia, yang tidak memiliki peran banyak dalam menentukan kebijakan bank tersebut. Itulah sebabnya, untuk jabatan tersebut diangkat—kebanyakan—dari para mantan menteri negara-negara berkembang atau dunia ketiga, diantaranya SMI sendiri. Jadi menurut teman tadi, tidak ada istimewa. Pertanyaannya adalah kalau jabatan SMI tidak istimewa, yang manakah yang dianggap istimewa?

Sebenarnya, posisi sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) jauh lebih baik daripada sebagai Direktur Bank Dunia. Mengapa? Karena sebagai menteri keuangan dari negara yang menjadi anggota Bank Dunia, seperti Indonesia memiliki kewenangan dalam menentukan kebijakan bank tersebut. Dan meskipun, hanya setahun sekali menteri keuangan mengikuti rapat Bank Dunia—dalam kapasitas sebagai Dewan Gubernur Bank Dunia— namun apa yang dikemukakan dalam rapat tahunan itu justeru sangat menentukan. Berbeda dengan Direktur Bank Dunia, yang hanya menjalankan saja  dari keputusan rapat tersebut.

Sampai saat ini, negara yang menjadi anggota Bank Dunia tercatat 186 negara. Namun dari 186 negara itu, hanya diwakili oleh 24 orang Direktur Eksekutif Bank Dunia. Di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia sebenarnya memiliki point atau kontribusi paling tinggi dibanding negara lainnya. Namun anehnya, tidak ada satu pun orang Indonesia yang menjadi Direktur Eksekutif. Dari kawasan ASEAN, justeru Direktur Eksekutif Bank Dunia diambil wakil dari Thailand. Kita tidak tahu, mengapa Indonesia bisa tidak terpilih. Ada yang menduga karena kita kalah dalam diplomasi luar negeri dengan Thailand.

Padahal posisi Direktur Eksekutif jauh lebih baik dari Managing Director World Bank sebagaimana yang bakal disandang Sri Mulyani Indrawati. Mengapa? Karena mereka, termasuk SMI hanyalah menjadi pelaksana tugas apa yang dirumuskan oleh Direkttur Eksekutif. Sekali lagi, SMI nantinya tidak punya kebijakan apa-apa. Sebab dia hanyalah sekedar pelaksana tugas dari Bank Dunia. Kalau kita mau membanggakan diri, maka jadilah Menteri Keuangan saja. Sebab dia adalah anggota Dewan Gubernur yang dapat mendelegasikan kebijakannya kepada Direktur Eksekutif. Dan Direktur Eksekutif selanjutnya mendelegasikan kebijakannya kepada Direktur. Jadi apa namanya, kalau bukan “kacung” Bank Dunia?

Jordania Boikot Produk Israel

 

Asosiasi profesi Jordania, Senin (10/5) meluncurkan gerakan boikot secara besar-besaran terhadap barang komuditas Zionis di Jordania, bersamaan dengan peringatan 62 tahun Nakbah Palestina.

Ketua asosiasi profesi dan asosiasi kedokteran Jordania, Ahmad Al-Armoto dalam konferensi persnya mengatakan, gerakan ini membawa slogan misi “Menuju Jordania yang bersih dari barang-barang Israel, bersamaan dengan peringatan ke 62 tahun nakbah (hari penjajahan) Palestina oleh Israel.

Tujuan kegiatana ini adalah untuk memberdayakan kembali gerakan boikot barang-barang Zionis serta menolak berinteraksi dengan Zionis dalam semua transaksi perdagangan, budaya, pariwisata dan yang lainya.

Sementara itu, anggota asosiasi kedokteran mengatakan, Jordania telah memboikot barang-barang Israel sejak ditanda tanganinya perjanjian Wadi Arubah tahun 1994. Oleh karena itu, selayaknya gerakan ini kembali digalakan ditengah makin masifnya agresi Zionis terhadap tempat suci ummat dan yahudisasinya, disamping pemberangusan terhadap hak-hak rakyat Palestina dengan memblokadenya di Gaza.

Dunia isinya hanya sementara

Memang itulah kenyataannya kesementaraan adalah sifat dunia dan bahkan segala sesuatu yang ada di dalamnya.Bahkan di dalam kesimpulanku adalah bahwa sifat kita hidup ini adalah "LAHIR MENDERITA dan MATI"

Al-Misbah

  

Tafsir Al Mishbah oleh Dr. Quraish Shihab adalah termasuk jenis tafsir yang sangat bermanfaat insya Allah

Penuntun pengemis

 

Namanya tidak asing bagi orang yang suka menghadiri pengajian atau khotbah jumat. Silmi Kaffah, gadis kecil yang berusia 4 tahunan. Di usia BALITA tidak menghalangi dirinya untuk membantu mencari penghasilan orang tuanya. Kedua orang tuanya adalah penyandang cacat mata yang berprofesi sebagai pemijat. Orang barangkali tidak menyangka gadis kecil cantik ini mempunyai orang tua yang keduanya buta. Silmi kecil berkulit putih menjadi penuntun orang tuanya menuju pasien pijat yang memerlukan jasa kedua orang tuanya.

Bang Amir, pertama kali berkenalan dengan keluarga ini beberapa hari lalu, ketika mereka pindah ke sekitar rumah. Angsuran rumah petak perbulan 300 ribu yang disewanya mengharuskan kedua orang tua Silmi ini mencari pelanggan pijat secepatnya.

Berangkat dari rasa ingin membantu keluarga ini, istri bang Amir yang baik hati menjadi pasien pijat yang pertama kali. Dari percakapan ringan dengan ibunya Silmi terungkaplah alasan kepindahan ke kontrakan rumah yang baru, yaitu karena pasien pijat di tempat yang lama sangat sepi. Di rumah kontrakan yang baru ini, harapan mendapatkan pasien yang lebih banyak adalah keinginan satu-satunya keluarga Silmi ini.

Rambut Silmi yang sedikit memerah mendorong istri bang Amir bertanya kepada ibunya, “Rambut Silmi kok merah ? apa disemir, bu?”, tanyanya.

Pertanyaan iseng sebenarnya, akan tetapi jawaban dari ibu Silmi inilah yang akan merubah alur cerita hubungan keluarga bang Amir dan keluarga Silmi kecil.

“Sebenarnya kalau pas pasien sepi, salah satu yang dapat menuntun dan membantu suami saya cuma Silmi ini ….”, jawab ibu Silmi dengan polos.

“Menuntun kemana, bu ?”, balas istri bang Amir.

“Menuntun suami saya meminta-minta menjadi pengemis di Terminal Cililitan”, jawabnya polos. Seperti tersambar petir di siang bolong, terlihat kekagetan di wajah istri bang Amir.

“Sebenarnya kami malu bu melakukan profesi sebagai pengemis, akan tetapi tidak ada cara lagi yang dapat kami lakukan selain itu…”, imbuhnya dengan wajah dan suara yang masih polos.

Jawaban yang polos dan apa adanya ini, membuat detak jantung istri bang Amir berdegup cepat. Kepolosan wujud kejujuran dan kepasrahan. Perasaan bersalah dan berdosa menyelimuti hati kecil istri bang Amir. Jadi rambut Silmi yang sedikit memerah ini karena panas terik di Terminal Cililitan sana, batin istri bang Amir. Ya Allah… betapa besar dosa-dosa hamba membiarkan mereka menderita, rintih istri bang Amir.

Percakapan ini disampaikan juga ke bang Amir. Istri bang Amir pun meminta kepada bang Amir agar mau dipijat oleh ayahnya Silmi. Agar target penghasilan mereka dapat memenuhi untuk membayar kontrakan bulan ini. Karena kalau hari itu tidak ada pasien pijat, maka ayah Silmi akan berangkat ke Terminal Cililitan menekuni “sambilan”-nya.

Bang Amir memang sedikit tidak nyaman kalau dipijat. Maka hobi pijat pun tidak ada dalam rangkaian jalan hidupnya. Pengalaman yang sudah-sudah, setelah dipijat biasanya badan tidak menjadi enak, malah terasa “cekot-cekot” karena terasa ngilu semua. Karena itu penawaran pijat biasanya ditolak dengan halus oleh bang Amir. Akan tetapi setelah mendengar penuturan cerita istrinya tentang keluarga Silmi, akhirnya bang Amir menerima tawaran istrinya.

Sore itu bel rumah terdengar, “Tetttttttttt ….Tetttttttt”, pertanda ada tamu yang datang. Di depan rumah muncul Silmi kecil menuntun bapaknya yang buta.

“Masya Allah, luar biasanya si Silmi kecil ini, malaikat kecil penuntun ayahnya,” batin bang Amir.

Anak seusianya mempunyai dunia yang pasti menyenangkan dengan sibuk berlari-lari dan bermain ayunan di taman kampung. Dari obrolan kecil di tengah pemijatan, ayah Silmi mengatakan bahwa karena suhu badan dengan panas yang tinggi, menyebabkan ketika kecil harus kehilangan kedua penglihatannya. Ada hal yang luar biasa dari seorang ayah yang buta ini, yaitu begitu sayangnya kepada si Silmi kecil. Ditegurnya dengan halus si Silmi kecil apabila melakukan hal-hal yang dilihatnya akan mengganggu suasana pemijatan.

Allah Maha Adil, batin bang Amir, kasih sayang seorang ayah kepada anaknya tidak Allah padamkan walaupun nikmat penglihatan itu dicabut-Nya. Subhanallah, sangat malunya orang yang dapat melihat dan mempunyai anak yang sehat tetapi tidak bersyukur kepada Rabb Yang Maha Tinggi.

Anak paling kecil bang Amir adalah Fathimah, seusia dengan Silmi kecil.

“Mi, lihatlah Fathimah dan Silmi ini …”, kata bang Amir kepada istrinya suatu ketika.

Sambil dipegang tangan kedua anak itu erat-erat, bang Amir melanjutkan kalimatnya.

“Mi, kedua anak ini sama…. sama-sama makhluk Allah… anak dari manusia… mereka mempunyai ayah dan ibu…. mempunyai tangan dan mata… hanya takdir Allah menentukan lain… yang satu di asuh oleh hamba-Nya yang lebih berkecukupan… dan yang satu di asuh oleh hamba-Nya yang berada dalam kekurangan…. kedua anak ini mi, bernasib beda… bajunya beda, sandalnya beda, tempat tinggalnya beda…”, ujar bang Amir dengan mimik serius.

Keheningan melingkupi suasana mereka berdua. Entah renungan apa yang muncul di benak bang Amir dan istrinya.

“Mi, kalau kecukupan ini adalah sebuah nikmat dan jalan kemudahan…. betapa Allah telah memuliakan kita ya mi…”, sambung bang Amir lirih.

Bang Amir pun teringat akan dirinya selama ini, betapa banyak nikmat Allah yang terkadang tidak sempat disyukurinya. Betapa banyak keluarga-keluarga seperti keluarga Silmi ini yang membutuhkan uluran pertolongan si mampu.

“Ah, seandainya mereka yang jauh nun di sana dapat bersatu saling membahu…. mungkin keluarga ini dapat lebih tertolong …”, batin bang Amir menutup keheningan malam.

Kesedihan bang Amir semakin terasa ketika mendengar bahwa  Silmi sekeluarga telah pindah ke kontrakan barunya, karena sepinya pelanggan pijat. Duh ! Ya Robbi.

Sisi baik pak Harto

"Memang setelah saya umumkan tentang adanya "Supersemar" itu, dipersoalkan orang,
apakah surat perintah itu hanya satu "instruksi" Presiden kepada saya,
ataukah satu "pemindahan kekuasan eksekutif yang terbatas?"
Menurut saya, perintah itu dikeluarkan di saat negara dalam keadaan gawat
di mana integritas Presiden, ABRI dan rakyat sedang berada dalam bahaya, s
edangkan keamanan, ketertiban dan pemerintahan berada dalam keadaan berantakan.
Seperti saya nyatakan di depan Radio dan TVRI di pertengahan Juni 1966,
saya tidak akan sering menggunakan Surat Perintah 11 Maret tersebut,
lebih-lebih kalau surat perintah itu belum diperlukan.
Mata pedang akan menjadi tumpul bila selalu digunakan.
Sebagai perbandingan saya kemukakan, segerombolan monyet yang menyerang
ladang jagung si Polan dapat diusir hanya dengan tepukan tangan penjaganya.
Oleh karena itu, tidaklah baik memobilisasi satu kompi kendaraan berlapis baja
cuma untuk mengusir segerombolan kera.
Lima tahun kemudian, untuk pertama kalinya saya jelaskan latar belakang dan sejarah
lahirnya "Supersemar" itu, karena rakyat Indonesia memang berhak mengetahuinya.
"Supersemar" merupakan bagian sejarah yang sangat penting untuk meluruskan
kembali perjuangan bangsa dalam mempertahankan cita-cita kemerdekaan
dan memberi isi pada kemerdekaan.
Berkenaan dengan ini, beberapa kali saya telah menolak prakarsa untuk memperingati
hari lahirnya "Supersemar" secara besar-besaran. Ini untuk menghindarkan timbulnya mitos terhadap peristiwa itu atau terhadap diri saya sendiri.
Saya tidak pernah menganggap "Supersemar" itu sebagai tujuan untuk memperoleh kekuasaan. Surat Perintah 11 Maret itu juga bukan merupakan alat untuk mengadakan
coup secara terselubung. "Supersemar" itu adalah awal perjuangan Orde Baru.